Dapatkan Panduan Lengkap Seputar Kehamilan

Mulai Dari Sebelum Hamil, Saat Hamil & Sesudah Melahirkan

Susu Formula di Recall di Beberapa Negara, Ini Imbauan untuk Orang Tua

recall susu formula

Di awal tahun 2026, media internasional dan dalam negeri ramai memberitakan penarikan (recall) sejumlah produk susu formula di beberapa negara. Informasi ini tentunya menjadi perhatian serius bagi para orang tua. Mengingat susu formula merupakan salah satu sumber asupan yang umum dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, Mom & Dad perlu memahami apa itu recall susu formula. Serta dampak yang mungkin terjadi, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi si Kecil dari konsumsi produk yang tidak sesuai standar keamanan.

Latar belakang peringatan keamanan pangan global 

Adanya peringatan keamanan pangan global terkait susu formula bayi muncul setelah otoritas kesehatan internasional menerima laporan adanya potensi cemaran zat berbahaya pada produk yang beredar di berbagai negara. 

Informasi tersebut disampaikan melalui European Union Rapid Alert System for Food and Feed (EURASFF) serta jaringan keamanan pangan dunia The International Food Safety Authorities Network (INFOSAN).

Dari temuan tersebut, kemudian mendorong langkah penarikan susu formula bayi di puluhan negara sebagai langkah pencegahan. Mengingat produk ini dikonsumsi oleh kelompok yang sangat rentan yaitu bayi. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi otoritas pangan di berbagai negara termasuk Indonesia. 

Penjelasan resmi dari BPOM terkait berita recall susu formula

Menanggapi maraknya pemberitaan global mengenai penarikan (recall) susu formula bayi di berbagai negara, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan klarifikasi resmi kepada masyarakat. 

BPOM menjelaskan bahwa penarikan tersebut berkaitan dengan adanya potensi cemaran toksin cereulide pada bahan baku tertentu yang digunakan dalam produksi susu formula bayi oleh produsen di luar negeri. 

Di Indonesia, BPOM telah melakukan penelusuran data impor serta pengujian laboratorium terhadap produk yang masuk ke Tanah Air. Hasil pengujian menunjukkan bahwa toksin cereulide tidak terdeteksi (limit of quantitation/LoQ <0,20 µg/kg) pada sampel produk yang diuji. 

Meski demikian, BPOM tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan memerintahkan penghentian distribusi dan penarikan sukarela (voluntary recall) terhadap produk dengan nomor bets tertentu guna melindungi kesehatan bayi sebagai kelompok konsumen yang rentan.

Penyebab penarikan (recall) produk susu formula 

Penarikan (recall) produk susu formula bayi dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah ditemukan potensi cemaran toksin cereulide pada salah satu bahan baku, yaitu arachidonic acid (ARA) oil, yang digunakan dalam proses produksi. 

Toksin cereulide merupakan racun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus dan dikenal bersifat tahan panas (heat stable). Sehingga tidak dapat dinonaktifkan melalui proses penyeduhan air panas maupun pemasakan biasa. 

Karena risiko paparan toksin ini dapat menimbulkan gejala akut seperti muntah hebat, diare, dan kelesuan dalam waktu singkat. Gejala ini bisa muncul setelah konsumsi umumnya antara 30 menit hingga 6 jam. Otoritas keamanan pangan di berbagai negara mengambil langkah penarikan produk secara luas. 

Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi kesehatan bayi sebagai kelompok yang sangat rentan. Meskipun tidak semua produk yang ditarik terbukti mengandung toksin tersebut.

Himbauan untuk orang tua terkait isu penarikan susu formula di beberapa negara

Menyikapi isu penarikan susu formula bayi yang terjadi di beberapa negara, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengimbau para orang tua untuk tetap tenang dan bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Demi menjaga keamanan dan kesehatan bayi, berikut beberapa langkah yang disarankan untuk dilakukan orang tua:

  • Periksa kemasan produk secara teliti, terutama nomor bets, izin edar, dan tanggal kadaluarsa pada susu formula yang digunakan.
  • Hentikan penggunaan produk yang termasuk dalam daftar penarikan resmi dan jangan diberikan kepada bayi.
  • Kembalikan atau laporkan produk terdampak ke tempat pembelian atau melalui layanan konsumen produsen sesuai arahan yang diberikan.
  • Terapkan kebiasaan Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa) sebelum membeli atau menggunakan produk pangan olahan.

Isu penarikan susu formula bayi yang terjadi di sejumlah negara menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap keamanan pangan. Terutama untuk produk yang dikonsumsi oleh bayi. Dengan adanya pengawasan ketat dari otoritas terkait dan keterbukaan informasi kepada publik, Mom & Dad diharapkan dapat mengambil keputusan dengan lebih tenang, rasional, dan berbasis data. 

Kesimpulan

Mengikuti himbauan resmi serta membiasakan diri memeriksa produk sebelum digunakan merupakan langkah sederhana namun krusial untuk melindungi kesehatan buah hati.

Di sisi lain, kondisi ini juga menegaskan kembali bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi pilihan nutrisi terbaik bagi bayi. ASI mengandung zat gizi lengkap, antibodi alami. Serta komponen bioaktif yang mendukung tumbuh kembang dan daya tahan tubuh bayi secara optimal, sebagaimana direkomendasikan oleh WHO. 

Bagi kondisi Mom yang memungkinkan pemberian ASI eksklusif menjadi langkah paling aman dan alami. Agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi di masa awal kehidupannya.

Bila Moms membutuhkan pendampingan laktasi, konsultasi menyusui, atau ingin memastikan proses pemberian ASI berjalan optima, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter konselor laktasi di KS Women and Children Clinic.

Dukungan yang tepat sejak awal akan membantu Moms dan si Kecil mendapatkan manfaat terbaik dari ASI, sekaligus memberikan rasa tenang dalam setiap tahap tumbuh kembang bayi.

Kategori

Penulis

sribulogin

Tanggal

02/21/2026

Kategori

Penulis

sribulogin

Tanggal

02/21/2026

0 Comments

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Bermanfaat Lainnya

Shares
Share This

Share This

Share this post with your friends!

Shares