
Bulan Ramadhan menjadi momen istimewa bagi anak-anak muslim untuk mulai belajar berpuasa seperti orang tua. Berpuasa melatih si Kecil menahan lapar dan haus dari pagi hingga waktu berbuka tiba. Hal ini kerap membuat sebagian orang tua khawatir, apakah puasa aman dilakukan oleh anak-anak. Karena itu, Mom & Dad perlu mengetahui umur ideal anak mulai puasa serta memahami tips aman melatih puasa anak di rumah agar si Kecil tetap sehat dan nyaman.
Artikel lainnya : Apakah Ibu Menyusui Boleh Puasa? Ini Penjelasan dan Tips Aman
Anak mulai puasa umur berapa yang dianjurkan?
Secara agama, kewajiban berpuasa mulai berlaku ketika anak telah mencapai masa pubertas (baligh). Namun, banyak orang tua mulai mengenalkan puasa lebih awal sebagai proses latihan agar anak terbiasa secara bertahap. Dari sisi kesehatan dan psikologis, kesiapan anak bisa berbeda-beda. Sebagai panduan awal, Mom & Dad dapat menggunakan gambaran umum berikut saat mulai melatih anak berpuasa:
Usia anak 5-7 tahun
Pada tahap ini, si Kecil dapat dikenalkan dengan konsep puasa secara ringan, misalnya berpuasa beberapa jam atau setengah hari. Fokusnya adalah membangun pemahaman dan pengalaman positif saat berpuasa. Pada tahap ini biasanya anak belum diajarkan puasa dengan durasi penuh.
Usia anak 8-10 tahun
Pada tahap ini, anak umumnya sudah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang makna puasa. Mereka dapat mulai mencoba berpuasa lebih lama, misalnya dari waktu sahur hingga sore hari, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Di usia ini, puasa masih bersifat latihan bagi anak yang belum baligh. Namun, jika anak telah memasuki masa baligh, Mom & Dad perlu memberikan pemahaman bahwa puasa sudah menjadi kewajiban, serta mendampingi anak menjalani puasa dengan durasi seperti orang dewasa secara bertahap dan aman.
Usia 11 Tahun ke Atas
Pada rentang usia ini, anak umumnya sudah lebih siap secara fisik dan mental untuk menjalani puasa sehari penuh. Meski demikian, peran orang tua tetap penting dalam memantau kondisi kesehatan anak serta memastikan asupan nutrisi dan cairan tercukupi dengan baik saat sahur dan berbuka.
Hal yang perlu dipertimbangkan sebelum anak berlatih puasa
Sebelum mulai melatih anak berpuasa, ada beberapa hal penting yang perlu Mom & Dad perhatikan, agar puasa yang dijalani si Kecil tetap aman dan nyaman, diantaranya :
Kondisi kesehatan fisik
Pastikan si Kecil dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit yang dapat mengganggu saat berpuasa. Misalnya anemia atau gangguan metabolik. Selama berpuasa, Mom & Dad perlu memperhatikan tanda-tanda kelelahan berlebihan, pusing, atau dehidrasi yang bisa menandakan anak belum siap.
Kesiapan mental dan emosional
Si Kecil perlu memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran dan pengendalian diri. Hindari memaksakan puasa agar anak tidak merasa tertekan dan tetap memiliki pengalaman yang positif.
Asupan nutrisi yang cukup
Pastikan menu sahur dan berbuka mengandung gizi seimbang untuk menunjang energi dan daya tahan tubuh si Kecil. Selain itu, ajarkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih yang cukup saat sahur dan berbuka puasa.
Tips aman melatih anak puasa
Agar puasa dapat dijalani dengan nyaman dan tidak mengganggu kesehatan si Kecil, Mom & Dad menerapkan cara yang tepat saat melatih si Kecil berpuasa. Berikut beberapa tips aman melatih anak puasa yang dapat Mom & Dad terapkan di rumah:
-
- Mulai ajarkan puasa secara bertahap. Misalnya dengan durasi puasa beberapa jam, lalu tingkatkan secara perlahan sesuai kemampuan si Kecil.
- Jelaskan tujuan dan manfaat puasa dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak. Sampaikan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, disiplin, serta kepedulian terhadap sesama, sehingga anak merasa termotivasi tanpa merasa tertekan.
- Ciptakan aktivitas yang menarik. Ajak si Kecil melakukan kegiatan ringan agar tidak terlalu fokus pada rasa lapar, seperti membaca buku cerita, bermain permainan edukatif, atau membantu menyiapkan hidangan berbuka puasa bersama keluarga.
- Berikan apresiasi atas usaha anak. Berikan pujian tulus atau hadiah sederhana sebagai bentuk penghargaan atas usahanya berpuasa. Cara ini dapat meningkatkan motivasi anak tanpa membuatnya merasa tertekan atau terbebani.
- Saat sahur dan berbuka, hindari makanan yang tinggi gula dan garam. Makanan tinggi gula dapat membuat si Kecil cepat lapar, serta memiliki kandungan gizi yang sedikit. Makanan yang tinggi garam dapat membuat si Kecil cepat haus.
- Saat berbuka puasa, sebaiknya berikan makanan yang secukupnya. Hindari memberikan makanan dan minuman yang berlebihan karena bisa membuat si Kecil kembung dan merasa tidak nyaman karena gangguan pencernaan.
- Hindari minuman berkarbonasi, makanan pedas, dan makan gorengan untuk mencegah masalah pencernaan.
Kapan anak sebaiknya tidak dipaksa puasa?
Puasa merupakan ibadah yang baik, namun ada kondisi tertentu yang perlu Mom & Dad pertimbangkan sehingga sebaiknya si Kecil tidak melanjutkan puasa. Mom & Dad perlu lebih berhati-hati jika, saat puasa si Kecil mengalami :
- Kondisi tubuh yang sangat lemas, pusing, pucat, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
- Berat badan anak menurun drastis selama menjalani puasa.
- Memiliki kondisi medis tertentu yang dapat membahayakan kesehatannya jika berpuasa.
Puasa sebaiknya menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak, bukan sesuatu yang memberatkan. Oleh karena itu, Mom & Dad tidak perlu memaksakan puasa jika kondisi si Kecil tidak memungkinkan. Ingat, setiap anak memiliki kesiapan fisik dan kesehatan yang berbeda, sehingga kebutuhan dan kemampuannya pun tidak bisa disamakan.
Agar persiapan fisik si Kecil untuk berpuasa lebih optimal, Mom & Dad bisa periksa kondisi kesehatan si Kecil dengan dokter spesialis anak di KS Women and Children Clinic. Konsultasi ini dapat membantu Mom & Dad mendapatkan saran yang tepat sesuai usia, kondisi tubuh, dan kebutuhan anak, sehingga latihan puasa bisa dilakukan dengan aman dan nyaman.









0 Comments