
Saat memompa ASI, sebagian Momsui mungkin menyadari adanya bercak atau warna kemerahan pada ASI yang keluar. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari puting yang lecet hingga perubahan pada jaringan payudara. Meski sering kali tidak berbahaya, munculnya darah dalam ASI tentu dapat menimbulkan kekhawatiran. Lalu, apakah ASI yang bercampur darah tetap aman untuk diminum bayi, atau justru sebaiknya dihindari?
Artikel lainnya : ASI Berbusa, Apakah Normal? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Apakah berbahaya jika ASI bercampur darah?
Sedikit darah dalam ASI umumnya tidak berbahaya bagi bayi. Hal ini sering terjadi, terutama pada minggu pertama setelah persalinan. Kondisi ASI bercampur darah bisa disebabkan oleh beberapa hal. Jika darah dalam ASI hanya muncul sementara, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, bila kondisi ini berlangsung lebih dari minggu pertama setelah melahirkan atau baru muncul di kemudian hari selama masa menyusui, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter. Meski demikian, dalam banyak kasus, ibu tetap dapat melanjutkan pemberian ASI seperti biasa.
Apakah darah dalam ASI itu normal?
Munculnya sedikit darah dalam ASI bisa termasuk kondisi yang normal, terutama pada awal masa menyusui saat payudara masih beradaptasi dengan proses produksi dan pengeluaran ASI. ASI bercampur darah bisa dikarenakan adanya perubahan pada jaringan payudara, aliran darah yang meningkat, atau iritasi ringan pada puting. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini sering kali bersifat sementara dan akan membaik dengan sendirinya. Kecuali, jika darah terus muncul, disertai nyeri, atau tidak kunjung membaik, sebaiknya Momsui segera memeriksakan diri ke dokter konselor laktasi untuk memastikan penyebabnya.
Kenapa saat pompa ASI keluar darah?
Munculnya darah saat memompa ASI bisa terjadi karena beberapa faktor yang berbeda. Berikut beberapa kondisi yang menyebabkan ASI bercampur darah :
Rusty Pipe Syndrome (Sindrom pipa berkarat)
Sindrom pipa berkarat (rusty pipe syndrome) adalah kondisi ketika ASI tampak berwarna kecoklatan atau kemerahan seperti karat. Biasanya terjadi pada minggu pertama setelah melahirkan. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya aliran darah ke payudara serta perubahan jaringan kelenjar yang berlangsung cepat, sehingga sedikit darah dapat ikut bercampur dalam ASI.
Biasanya tidak berbahaya, baik bagi ibu maupun bayi. Dalam beberapa kasus, bayi mungkin memuntahkan ASI karena darah yang tertelan dapat sedikit mengiritasi lambung, namun hal ini tidak menimbulkan dampak serius. Kondisi ini akan membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 7–10 hari setelah persalinan, sehingga ibu tetap dapat melanjutkan menyusui.
Puting susu yang retak atau luka
Puting yang retak atau mengalami luka merupakan salah satu penyebab paling umum munculnya darah dalam ASI. Kondisi ini biasanya terjadi akibat teknik menyusui yang kurang tepat, terutama ketika mulut bayi hanya menempel pada puting tanpa memasukkan sebagian besar areola. Akibatnya, gesekan yang berulang dapat memicu lecet hingga perdarahan ringan.
Untuk mengatasinya, penting bagi Momsui untuk mengetahui penyebab utama luka pada puting agar proses penyembuhan dapat berjalan optimal. Memperbaiki posisi dan pelekatan bayi saat menyusui menjadi langkah utama yang perlu dilakukan.
Kapiler yang rusak
Perdarahan ringan pada payudara juga bisa terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil (kapiler) yang sangat sensitif. Hal ini umumnya dipicu oleh tekanan berlebih saat memerah ASI secara manual, pijatan payudara yang terlalu kuat, atau penggunaan pompa ASI dengan daya hisap yang terlalu tinggi. Karena kapiler bersifat sangat halus, perlakuan yang kurang tepat dapat membuatnya mudah rusak dan menyebabkan ASI tampak bercampur darah.
Papiloma intraduktus
Papiloma intraduktus adalah benjolan kecil yang tumbuh di saluran ASI dekat puting. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya (bukan kanker) dan biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, salah satu tandanya adalah keluarnya darah berwarna merah terang dari payudara tanpa disertai luka pada puting.
Perdarahan bisa terjadi karena jaringan tersebut terganggu saat menyusui atau memompa ASI, sehingga darah ikut keluar bersama ASI. Dalam banyak kasus, ibu tetap dapat menyusui selama bayi tidak mengalami masalah saat menelan ASI yang bercampur darah. Namun, jika bayi sering muntah atau tampak tidak nyaman, Momsui dapat sementara memompa ASI dari payudara yang terdampak hingga darahnya berkurang, biasanya dalam waktu sekitar 3–7 hari.
Perubahan fibrokistik
Perubahan fibrokistik pada payudara merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya benjolan padat, kista, atau rasa nyeri pada jaringan payudara. Kondisi ini cukup umum terjadi, termasuk pada masa kehamilan dan menyusui. Dalam beberapa kasus, perubahan fibrokistik juga dapat menyebabkan keluarnya darah dari puting, sehingga ASI tampak bercampur darah.
Meski demikian, kondisi ini umumnya tidak menjadi alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Sebagian besar ibu tetap dapat menyusui dengan aman. Namun, pada kondisi tertentu di mana jumlah darah cukup banyak, bayi bisa saja mengalami muntah karena sensitif terhadap darah yang tertelan.
Kapan harus ke dokter?
Meskipun sedikit darah dalam ASI biasanya tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang sebaiknya segera diperiksakan oleh dokter atau tenaga kesehatan. Misalnya, perdarahan yang terus berlanjut setelah minggu pertama, darah berwarna merah terang yang muncul tiba-tiba, nyeri hebat pada payudara, atau bayi tampak tidak nyaman atau sering muntah setelah menyusui.
Untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi tetap optimal, Momsui disarankan untuk rutin berkonsultasi dengan dokter konselor laktasi di KS Women and Children Clinic. Dengan konsultasi ini, Momsui akan mendapatkan panduan tepat mengenai posisi dan pelekatan bayi, cara memompa ASI yang aman, serta solusi untuk mengatasi perdarahan sehingga proses menyusui tetap nyaman dan lancar.









0 Comments