Pertumbuhan janin terhambat merupakan kondisi yang sering membuat Mommils merasa khawatir. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari kondisi kesehatan ibu, plasenta dan kondisi janin. Oleh karena itu, penting bagi Mommils untuk memahami penyebab pertumbuhan janin terhambat sejak awal kehamilan. Agar risiko komplikasi dapat diminimalkan dan tumbuh kembang janin tetap terpantau dengan baik.
Artikel lainnya : Kenapa Kaki Bengkak Saat Hamil? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Apa itu pertumbuhan janin terhambat?
Pertumbuhan janin terhambat dalam istilah medis disebut IUGR (Intrauterin Growth Restiction) merupakan suatu kondisi komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan janin tumbuh lambat tidak sesuai dengan usia kehamilan. IUGR biasanya dapat diketahui melalui pemeriksaan USG oleh dokter kandungan.
Kondisi ini menyebabkan berat badan dan ukuran janin berada di bawah standar normal. Sehingga berisiko menimbulkan berbagai komplikasi kehamilan lainnya bahkan setelah bayi dilahirkan.
Pertumbuhan janin terhambat (PJT) dikenal dalam dua jenis, yaitu simetris (primer) dan asimetris (sekunder). PJT simetris biasanya terjadi sebelum 20 minggu kehamilan akibat kelainan kromosom atau infeksi. Biasanya kondisi tubuh janin berukuran kecil seluruhnya.
Sedangkan PJT asimetris terjadi pada trimester ketiga karena plasenta tidak bekerja optimal. Hanya bagian perut janin yang berukuran kecil. Sehingga ukuran tubuh janin menjadi tidak proporsional.
Apa yang menyebabkan pertumbuhan janin terhambat?
Penyebab pertumbuhan janin terhambat dapat berasal dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari kondisi kesehatan ibu, fungsi plasenta, maupun kondisi janin itu sendiri. Gangguan pada salah satu faktor tersebut dapat menghambat pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan janin untuk tumbuh secara optimal selama masa kehamilan.
Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko pertumbuhan janin terhambat dapat disebabkan dari beberapa faktor yaitu :
Kondisi ibu hamil
- Memiliki riwayat kehamilan sebelumnya dengan kondisi IUGR atau pertumbuhan janin terhambat
- Mengalami komplikasi kehamilan seperti hipertensi, diabetes, anemia, penyakit jantung dan gangguan pada ginjal
- Kebiasaan hidup yang tidak sehat yaitu merokok, minum alkohol dan penyalahgunaan narkoba
- Mengalami kondisi autoimun
- Sedang mengalami infeksi seperti rubella, sifilis, toksoplasmosis dll
Kondisi plasenta
Plasenta berperan penting dalam mengalirkan nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin. Gangguan pada plasenta (misalnya akibat dari kondisi ibu yang mengalami preeklampsia, eklampsia, atau kehamilan kembar), dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat.
Faktor dari janin
Kelainan genetik atau kromosom (misalnya : down syndrom) dapat menjadi penyebab pertumbuhan janin terhambat. Pada kondisi ini, janin memiliki keterbatasan untuk tumbuh secara normal meskipun asupan nutrisi dari ibu sudah mencukupi.
Tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat
Sebagian besar ibu hamil tidak menyadari adanya pertumbuhan janin yang terhambat, karena kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Untuk memastikannya, dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan lebih detail untuk menilai dan memastikan apakah janin tumbuh sesuai dengan usia kehamilan.
Beberapa hasil pemeriksaan dokter yang biasanya menjadi indikasi dari IUGR :
- Hasil pemeriksaan TFU (Tinggi Fundus Uteri) lebih rendah ±4cm dari standar normal sesuai usia kehamilan
- Kenaikan berat badan ibu kurang dari normal
- Hasil pemeriksaan USG menunjukkan sirkulasi atau aliran darah pada plasenta tidak lancar
- Hasil USG yang abnormal : berat janin rendah, ukuran janin kecil dan tubuh tidak proporsional
Selain dari pemeriksaan dokter, Mommils juga dapat merasakan gejala yang tidak biasa seperti gerakan janin berkurang dan tidak seaktif biasanya yang bisa menjadi salah satu indikasi dari IUGR.
Oleh karena itu, jika Mommils merasakan hal ini penting untuk segera melakukan pemeriksaaan ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi
Dampak dari pertumbuhan janin terhambat
Kondisi kehamilan dengan komplikasi pertumbuhan janin terhambat dapat meningkatkan risiko pada kehamilan dan kondisi bayi setelah lahir, seperti :
- Risiko persalinan sesar dan kelahiran prematur
- Kesulitan bernapas dan menyusu saat lahir pada bayi
- Kekurangan oksigen (hipoksia)
- Kadar gula darah yang rendah (hipoksia)
- Suhu tubuh bayi tidak stabil
- Aspirasi mekonium (bayi baru lahir menelan feses pertamanya)
- Kematian janin dalam kandungan
- Kematian bayi baru lahir
Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan pertumbuhan janin secara rutin sangat penting, agar risiko-risiko tersebut dapat diminimalkan dan bayi lahir dengan kondisi sehat.
Apa yang harus dilakukan jika pertumbuhan bayi terhambat selama kehamilan?
Jika kondisi kehamilan sudah didiagnosis dengan pertumbuhan janin yang terhambat, sebaiknya Mommils lakukan konsultasi dan pemeriksaan dengan dokter Obgyn secara teratur sesuai jadwal.
Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan.
Untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan memastikan kesehatan Mommils selama kehamilan, jadwalkan konsultasi dengan dokter Obgyn di KS Women and Children Clinic.
Dapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan yang menyeluruh, pemantauan pertumbuhan janin secara berkala, serta pendampingan dokter dan tenaga kesehatan yang profesional agar Mommils dan si kecil tetap sehat hingga waktu persalinan tiba.









0 Comments