
Sebagai orang tua, Mom & Dad tentu ingin memberikan perlindungan terbaik untuk tumbuh kembang si Kecil. Salah satu langkah penting yang tidak boleh dilewatkan adalah pemberian vaksin polio sejak dini. Selain itu, Mom & Dad juga perlu mengetahui berbagai manfaat vaksin polio, usia pemberian yang tepat, serta jadwal dan kemungkinan efek sampingnya. Sehingga, Mom & Dad dapat lebih siap, tenang, dan percaya diri dalam mendampingi si Kecil menjalani imunisasi sesuai anjuran dokter dan tenaga kesehatan.
Artikel lainnya : Vaksin Japanese Encephalitis: Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya
Apa itu vaksin polio ?
Vaksin polio adalah vaksin yang diberikan untuk melindungi si Kecil dari penyakit polio, yaitu infeksi virus yang dapat menyerang sistem saraf dan berisiko menyebabkan kelumpuhan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun paling rentan terjadi pada anak-anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Polio atau poliomyelitis merupakan penyakit menular, di mana virusnya berkembang biak di saluran pencernaan dan dapat keluar melalui feses.
Polio tergolong penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang sistem saraf, khususnya sumsum tulang belakang dan batang otak. Pada kondisi tertentu, infeksi polio dapat menyebabkan kesulitan bernapas, kelumpuhan permanen, bahkan kematian. Penularan virus polio dapat terjadi melalui kontak langsung antar manusia, maupun melalui makanan dan air yang terkontaminasi virus.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lebih dari 90% orang yang terinfeksi virus polio tidak menunjukkan gejala berat. Bahkan sebagian tidak bergejala sama sekali. Masa inkubasi virus polio umumnya berkisar antara 3–6 hari, sebelum akhirnya gejala mulai muncul.
Mengingat penyakit polio sangat berbahaya dan mudah menular, pemerintah menganjurkan pemberian vaksin polio sebagai imunisasi wajib. Vaksinasi ini bertujuan untuk mencegah infeksi serta memutus rantai penularan penyakit polio.
Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus polio sehingga jika suatu saat terpapar, tubuh si Kecil dapat melawan infeksi dengan lebih efektif.
Terdapat dua jenis vaksin polio yang umum digunakan, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV), keduanya aman dan efektif dalam mencegah penyakit polio. Pemberian vaksin secara tepat waktu sangat penting untuk memastikan perlindungan optimal sejak dini.
Umur berapa vaksin polio mulai diberikan?
Pencegahan penyakit polio dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi. Vaksin polio diberikan mulai dari bayi baru lahir, kemudian secara bertahap diberikan hingga usia 18 bulan sesuai jadwal imunisasi.
Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), pemberian vaksin polio berikutnya pada saat usia anak 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal dan tahan lama, vaksin polio dosis lanjutan atau booster dianjurkan saat si Kecil berusia 18 bulan.
Jadwal pemberian vaksin polio
Agar perlindungan yang terbentuk lebih optimal dan bertahan lama, vaksin polio diberikan dalam beberapa dosis sesuai dengan tahapan usia anak. Berikut adalah rangkaian tahap pemberian vaksin polio yang dianjurkan :
| Tahap dosis vaksin polio | Usia pemberian vaksin polio | Diberikan secara |
| Polio 0 | Saat lahir | Tetes oral (OPV) |
| Polio 1 | 2 bulan | Tetes oral (OPV) |
| Polio 2 | 3 bulan | Tetes oral (OPV) |
| Polio 3 | 4 bulan | Tetes oral (OPV) |
Vaksin polio diberikan dalam bentuk vaksin polio oral (bOPV) yang diteteskan ke mulut bayi, biasanya saat bayi baru lahir. Berdasarkan jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, imunisasi polio lengkap terdiri dari 1 kali bOPV saat lahir, kemudian dilanjutkan dengan 3 kali bOPV pada usia selanjutnya.
Selain melalui tetes oral, imunisasi polio juga diberikan melalui vaksin polio suntik (IPV). Pemberian vaksin polio IPV dianjurkan minimal 2 kali, umumnya pada usia 4 bulan dan 9 bulan, untuk membantu memperkuat dan mempertahankan daya tahan tubuh si Kecil terhadap virus polio. Vaksin polio suntik (IPV) biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin kombinasi DTP (baik DTwP maupun DTaP), sehingga si Kecil bisa mendapatkan beberapa perlindungan sekaligus dalam satu kali suntikan.
Khusus pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV atau bayi yang terdiagnosis HIV, pemberian vaksin polio perlu disesuaikan dan dilakukan sesuai dengan anjuran dokter.
Efek samping vaksin polio
Setelah menerima vaksin polio, sebagian anak mungkin mengalami efek samping ringan sebagai reaksi alami tubuh dalam membentuk kekebalan. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.
Beberapa efek samping yang dapat muncul antara lain demam ringan. Anak menjadi lebih rewel, nafsu makan menurun, atau kemerahan dan nyeri di area suntikan (untuk vaksin polio suntik/IPV). Pada vaksin polio oral (bOPV), efek samping biasanya sangat minimal dan jarang menimbulkan keluhan serius.
Dengan pemantauan yang tepat dan perawatan sederhana di rumah, efek samping vaksin polio biasanya dapat diatasi tanpa mengganggu aktivitas si Kecil. Selain itu, pastikan Mom & Dad melakukan vaksinasi di klinik terpercaya KS Women and Children Clinic bersama dokter spesialis anak yang berpengalaman dan tenaga kesehatan yang ramah anak.
Di KS Women and Children Clinic, Mom & Dad bisa mendapatkan layanan imunisasi yang aman, nyaman, serta sesuai dengan kebutuhan dan kondisi si Kecil. Yuk, lindungi kesehatan anak sejak dini dengan jadwal imunisasi yang tepat dan pendampingan medis yang profesional.









0 Comments