KB senggama terputus menjadi salah satu metode kontrasepsi yang sudah dikenal sejak lama. Metode ini tidak memerlukan alat, obat, maupun tindakan medis sehingga dapat dilakukan kapan saja. Meski terlihat sederhana, efektivitas KB senggama terputus sangat bergantung pada kemampuan dan kedisiplinan pasangan dalam melakukannya dengan tepat. Lalu, apa itu KB senggama terputus dan seberapa efektif metode ini untuk mencegah kehamilan? Berikut penjelasannya.
Apa itu KB senggama terputus?
KB senggama terputus adalah metode kontrasepsi tradisional yang dilakukan dengan mengeluarkan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Metode ini juga dikenal dengan istilah coitus interruptus atau “menarik keluar”. Tujuannya adalah mencegah sperma masuk ke dalam vagina. Dengan begitu, sperma tidak bertemu dengan sel telur atau ovum sehingga peluang terjadinya pembuahan dapat dikurangi. Dalam pedoman pelayanan kontrasepsi di Indonesia, senggama terputus dijelaskan sebagai metode kontrasepsi tradisional yang efektivitasnya sangat bergantung pada kemauan, pengendalian diri, dan kedisiplinan pasangan.
Bagaimana cara kerja KB senggama terputus?
Cara kerja KB senggama terputus sebenarnya cukup sederhana. Saat berhubungan seksual, penis harus dikeluarkan dari vagina sebelum ejakulasi terjadi. Metode ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan sperma masuk ke saluran reproduksi wanita. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan pria mengenali waktu ejakulasi dan menarik penis tepat waktu. Jika terlambat dikeluarkan dapat menyebabkan sperma masuk ke dalam vagina. Selain itu, metode ini juga membutuhkan pengendalian diri yang baik dan konsistensi setiap kali berhubungan seksual.
Seberapa efektif KB senggama terputus untuk mencegah kehamilan?
Efektivitas KB senggama terputus dapat berbeda tergantung pada cara penggunaannya. Berdasarkan data dalam Buku Pedoman Pelayanan Kontrasepsi dan Keluarga Berencana 2021, berikut gambaran efektivitas metode senggama terputus:
- Penggunaan konsisten dengan benar: sekitar 4 kehamilan terjadi dari setiap 100 perempuan dalam satu tahun.
- Penggunaan biasa: sekitar 20 kehamilan terjadi dari setiap 100 perempuan dalam satu tahun.
- Data 12 bulan dengan penggunaan biasa: tercatat sekitar 13,4 kehamilan terjadi dari setiap 100 perempuan.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan KB senggama terputus sangat bergantung pada ketepatan penggunaannya. Oleh karena itu, meskipun KB senggama terputus dapat membantu mengurangi peluang kehamilan, metode ini masih memiliki risiko kegagalan. Terutama pada penggunaan sehari-hari, ketika pengendalian ejakulasi atau ketepatan waktu tidak selalu dapat dilakukan dengan sempurna.
Apa saja keuntungan KB senggama terputus?
Walaupun efektivitasnya terbatas, metode KB senggama terputus memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
- Tidak memerlukan biaya.
- Tanpa menggunakan hormon.
- Tidak memerlukan alat atau resep.
- Tidak memiliki efek samping hormonal.
- Dapat dilakukan kapan saja.
- Tidak memerlukan tindakan medis.
- Dapat menjadi pilihan sementara bagi pasangan yang belum ingin menggunakan metode kontrasepsi lain.
Metode ini juga dapat melibatkan peran pasangan dalam perencanaan kehamilan. Namun, keterlibatan dan komunikasi antara kedua pasangan menjadi hal penting karena keberhasilan metode sangat bergantung pada kerja sama keduanya.
Apa keterbatasan KB senggama terputus?
Sebelum memilih metode ini, Mom & Dad juga perlu memahami keterbatasannya. Salah satu kelemahan utama KB senggama terputus adalah tingginya ketergantungan pada pengendalian diri dan ketepatan waktu. Metode ini dapat gagal ketika penis tidak ditarik keluar sebelum ejakulasi. Risiko kehamilan juga tetap ada apabila cairan yang mengandung sperma masuk atau berada di dekat area vagina. Selain itu, KB senggama terputus tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual, termasuk HIV. Penggunaan kondom tetap menjadi metode kontrasepsi yang dapat membantu mencegah kehamilan sekaligus mengurangi risiko penularan infeksi menular seksual. Bagi pasangan yang benar-benar ingin menunda atau mencegah kehamilan dengan tingkat kepastian lebih tinggi, metode kontrasepsi lain mungkin dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Siapa yang boleh menggunakan KB senggama terputus?
Secara umum, semua pria dapat menggunakan metode senggama terputus karena tidak ada kondisi medis tertentu yang secara khusus menghalangi penggunaannya. Pedoman pelayanan kontrasepsi nasional juga menyebutkan bahwa metode ini dapat digunakan tanpa adanya kriteria kelayakan medis khusus.
Meski demikian, metode ini mungkin kurang sesuai bagi pria yang mengalami ejakulasi dini atau kesulitan mengontrol dan menghentikan hubungan seksual sebelum ejakulasi. Senggama terputus juga bukan pilihan ideal bagi pasangan yang membutuhkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi atau ingin menunda kehamilan secara lebih terencana.
Pertimbangkan kebutuhan sebelum memilih metode kontrasepsi
Setiap pasangan memiliki kebutuhan metode kontrasepsi yang berbeda. Ada yang ingin menunda kehamilan dalam waktu tertentu, mengatur jarak kelahiran, atau tidak merencanakan kehamilan lagi. Oleh karena itu, pemilihan jenis metode kontrasepsi sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kemudahan penggunaannya. Tingkat efektivitas, kondisi kesehatan, rencana kehamilan, serta kenyamanan Mom & Dad juga perlu menjadi pertimbangan.
KB senggama terputus memang dapat membantu mengurangi peluang kehamilan, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan dan kedisiplinan pasangan. Untuk memilih metode KB yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan rencana kehamilan, Mom & Dad dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis Obgyn di KS Women and Children Clinic. Dokter dapat membantu mempertimbangkan pilihan kontrasepsi berdasarkan kondisi kesehatan dan tujuan reproduksi Mom.
Sumber:
Pedoman Pelayanan Kontrasepsi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021.
World Health Organization. Family Planning/Contraception Methods dan data efektivitas metode kontrasepsi.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Regulasi dan penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana di Indonesia.









0 Comments