Dapatkan Panduan Lengkap Seputar Kehamilan

Mulai Dari Sebelum Hamil, Saat Hamil & Sesudah Melahirkan

Perbedaan Adenomiosis dan Endometriosis: Gejala dan Penanganannya

perbedaan adenomiosis dan endometriosis

Adenomiosis dan endometriosis adalah gangguan pada sistem reproduksi wanita yang terjadi ketika jaringan endometrium tumbuh di lokasi yang tidak semestinya. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi rahim, mengganggu siklus menstruasi, menimbulkan nyeri, hingga berdampak pada kesuburan.

Meski sama-sama berkaitan dengan rahim, adenomiosis dan endometriosis memiliki karakteristik, gejala, serta dampak yang berbeda. Karena itu, penting bagi Mom untuk memahami perbedaan keduanya agar dapat mengenali tanda-tandanya sejak dini dan memperoleh penanganan yang tepat, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.

Artikel lainnya : Endometriosis Adalah Masalah Kesehatan dan Jangan Dianggap Sepele!

Apa beda adenomiosis dan endometriosis? 

Adenomiosis dan endometriosis sama-sama terjadi akibat pertumbuhan jaringan mirip lapisan rahim (endometrium) di lokasi yang tidak semestinya. Jaringan ini tetap bereaksi terhadap perubahan hormon selama siklus menstruasi, sehingga dapat menimbulkan peradangan, nyeri dan gangguan pada fungsi rahim maupun organ di sekitarnya. 

Perbedaan antara keduanya terletak pada tempat tumbuhnya jaringan tersebut. Pada adenomiosis, jaringan endometrium tumbuh masuk ke dalam otot dinding rahim, sedangkan pada endometriosis, jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba falopi, atau area panggul. 

Faktor risiko adenomiosis dan endometriosis

Adenomiosis dan endometriosis biasanya memiliki faktor risiko yang berbeda. Sehingga penting bagi Mom untuk mengenali gejala dan faktor pemicunya agar bisa mengambil langkah pencegahan atau penanganan lebih tepat.

Faktor risiko adenomiosis Faktor risiko endometriosis
  • Biasanya terjadi pada wanita berusia antara 40-50 tahun 
  • Pernah mengalami kehamilan kembar dan kehamilan dengan risiko yang tinggi 
  • Pernah menjalani operasi pada rahim
  • Hormon yang tidak seimbang
  • Ada faktor risiko keturunan dari keluarga 
  • Bisa terjadi pada wanita usia muda 
  • Ada riwayat keluarga dengan endometriosis 
  • Mengalami kelainan rahim seperti retrofleksi (rahim terbalik)
  • Hormon estrogen dan progesteron yang tidak seimbang 

Perbedaan gejala adenomiosis dan endometriosis

Adenomiosis dan endometriosis memang sering menimbulkan keluhan dan gejala yang mirip sehingga tidak jarang membuat wanita sulit membedakannya. Bahkan, pada beberapa kasus, kedua kondisi ini dapat terjadi secara bersamaan. 

Meski demikian, perbedaan lokasi pertumbuhan jaringan endometrium menyebabkan pola gejala yang dirasakan tidak sepenuhnya sama. 

Gejala adenomiosis 

  • Nyeri yang terasa semakin parah saat menstruasi (dismenorea)
  • Perdarahan berat saat menstruasi dan berlangsung lebih lama dari biasanya 
  • Nyeri panggul 
  • Terasa nyeri saat dan setelah hubungan seksual 

Gejala endometriosis : 

  • Nyeri panggul yang terasa semakin parah saat menstruasi 
  • Rasa nyeri pada perut saat menstruasi 
  • Nyeri selama atau sesudah hubungan seksual 
  • Rasa sakit saat buang air besar atau kecil terutama saat menstruasi 
  • Sulit hamil (infertilitas)
  • Kelelahan, kembung, sembelit, diare dan mual saat menstruasi 

Karena gejalanya yang dirasakan bisa mirip dan berbeda setiap wanita, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis yang akurat untuk menentukan penanganan yang sesuai. 

Penanganan dan pengobatan adenomiosis dan endometriosis

Penanganan adenomiosis dan endometriosis bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, mengontrol perdarahan, dan menjaga kesehatan reproduksi. Pilihan pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi setiap wanita, seperti tingkat keparahan gejala, usia, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Berikut beberapa opsi penanganan pada adenomiosis dan endometriosis : 

  1. Obat pereda nyeri

Sebagai penanganan awal, dokter biasanya meresepkan obat pereda nyeri untuk membantu mengurangi rasa sakit saat menstruasi akibat adenomiosis maupun endometriosis. Obat ini digunakan sesuai anjuran dokter untuk meredakan keluhan sebelum mempertimbangkan terapi lanjutan. 

  1. Terapi hormon

Pertumbuhan jaringan endometrium yang tidak normal sering dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon. Terapi hormon bertujuan untuk menekan pertumbuhan jaringan tersebut, menstabilkan siklus haid, serta mengurangi nyeri dan perdarahan berlebihan.

Terapi hormon biasanya akan diberikan oleh dokter spesialis kandungan sesuai dengan kondisi dan gejala yang dialami. 

  1. Tindakan laparoskopi

Pada kasus adenomiosis dan endometriosis yang berat, tindakan laparoskopi dapat dilakukan untuk mengangkat atau menghancurkan jaringan endometriosis. Prosedur ini tidak hanya membantu mengurangi nyeri dalam jangka panjang, tetapi juga dapat meningkatkan peluang kehamilan pada wanita yang mengalami gangguan kesuburan akibat endometriosis. Prosedur ini dilakukan oleh dokter spesialis kandungan yang terlatih. 

  1. Histerektomi (pengangkatan rahim)

Kondisi adenomiosis atau endometriosis yang berat dan tidak memberikan respon terhadap pengobatan lain, histerektomi dapat menjadi pilihan terakhir. Tindakan ini umumnya dipertimbangkan pada wanita yang tidak lagi merencanakan kehamilan dan mengalami keluhan yang sangat berat. 

Kesimpulan

Adenomiosis dan endometriosis merupakan kondisi yang sebaiknya diberikan penanganan sejak awal munculnya tanda dan gejala. Misalnya perdarahan menstruasi yang tidak biasa, nyeri panggul dan nyeri saat haid bisa menjadi indikasi adanya masalah pada rahim. Oleh karena itu, jika Mom mengalami salah satu gejalanya segera periksa dan konsultasi dengan dokter obgyn berpengalaman di KS Women and Children Clinic. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan sedini mungkin, kondisi dapat dikontrol lebih baik dan meminimalisir risiko komplikasi yang tidak diinginkan. 

Penulis

sribulogin

Tanggal

03/24/2026

Penulis

sribulogin

Tanggal

03/24/2026

0 Comments

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Bermanfaat Lainnya

Shares
Share This

Share This

Share this post with your friends!

Shares