Dapatkan Panduan Lengkap Seputar Kehamilan

Mulai Dari Sebelum Hamil, Saat Hamil & Sesudah Melahirkan

Apakah Ibu Menyusui Boleh Donor Darah? Ketahui Syarat dan Waktu yang Tepat 

apakah ibu menyusui boleh donor darah

 

Donor darah merupakan tindakan mulia yang dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, bagi ibu menyusui yang ingin mendonorkan darahnya, sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Ada beberapa syarat dan waktu yang perlu diperhatikan untuk memastikan kondisi kesehatan ibu tetap baik serta kebutuhan nutrisi selama menyusui tetap terpenuhi. Simak penjelasan lengkap mengenai apakah ibu menyusui boleh donor darah, syarat yang harus dipenuhi, serta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menjadi pendonor.

Baca juga: Apakah Ibu Menyusui Boleh Puasa? Ini Penjelasan dan Tips Aman

Bolehkah ibu menyusui mendonorkan darah?

Secara umum, ibu menyusui sebaiknya menunda donor darah, terutama apabila bayi masih berusia di bawah 6 bulan atau masih mendapatkan ASI eksklusif. Hal ini karena setelah melahirkan, tubuh ibu masih memerlukan waktu untuk memulihkan cadangan sel darah dan zat besi yang berkurang selama kehamilan dan persalinan. Di sisi lain, kebutuhan nutrisi ibu juga akan terus meningkat untuk mendukung produksi ASI sehingga kondisi kesehatan ibu perlu menjadi prioritas.

Berapa lama setelah melahirkan boleh donor darah?

Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), donor darah sebaiknya dilakukan setelah 9 bulan pasca persalinan dan setidaknya 3 bulan setelah bayi disapih secara signifikan. Rekomendasi ini bertujuan untuk memastikan tubuh ibu telah pulih dengan baik serta mengurangi risiko terjadinya kekurangan zat besi yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu.

Meskipun demikian, ketentuan donor darah dapat berbeda di setiap negara atau lembaga donor darah. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mendonorkan darah, pastikan kondisi kesehatan Moms memenuhi persyaratan yang berlaku untuk melakukan donor.

Kenapa ibu menyusui perlu menunda donor darah?

Selama menyusui, kebutuhan zat besi, cairan, dan kalori ibu cenderung lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak menyusui. Sementara itu, setiap kali donor darah, tubuh kehilangan sekitar 450 mL darah beserta sejumlah zat besi yang diperlukan untuk membentuk sel darah merah. Apabila donor dilakukan terlalu cepat setelah melahirkan atau ketika ibu masih menyusui secara intensif, tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan cadangan zat besi dan volume darah.

Akibatnya, sebagian ibu dapat lebih mudah mengalami kelelahan, pusing, atau bahkan berisiko mengalami anemia apabila asupan nutrisi belum mencukupi. Kondisi ini memang tidak secara langsung mempengaruhi kualitas ASI, tetapi dapat membuat kondisi fisik ibu menurun sehingga aktivitas menyusui dan merawat si Kecil menjadi kurang optimal.

Oleh karena itu, menunda donor darah bukan berarti Moms tidak boleh menjadi pendonor. Sebaliknya, anjuran tersebut merupakan langkah pencegahan agar kesehatan tetap terjaga selama masa menyusui. Setelah si Kecil berusia lebih besar atau proses menyapih telah selesai selama sekitar 3 bulan, serta kondisi kesehatan ibu dinyatakan baik dan memenuhi syarat donor darah, Moms dapat kembali mendonorkan darah dengan lebih aman.

Tips aman donor darah bagi ibu menyusui

Hal terpenting yang perlu dipahami adalah donor darah sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, bukan hanya ketika Moms merasa sehat. Agar lebih aman, Moms bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan memastikan tubuh Moms sudah siap untuk donor darah. Setelah memenuhi syarat tersebut dan dinyatakan layak oleh petugas donor darah, berikut beberapa tips agar donor darah tetap aman dan nyaman.

1. Tunda waktu donor darah setidaknya 9 bulan setelah melahirkan hingga 3 bulan setelah menyapih si Kecil

Sebelum memutuskan donor darah, pastikan masa menyusui sudah memenuhi rekomendasi dan kondisi kesehatan telah pulih sepenuhnya setelah melahirkan. Penundaan donor darah bertujuan memberi kesempatan tubuh memulihkan cadangan zat besi serta memastikan kebutuhan nutrisi ibu dan bayi tetap terpenuhi selama masa menyusui.

2. Pastikan kondisi tubuh benar-benar sehat

Hindari melakukan donor darah apabila sedang demam, mengalami infeksi, kurang tidur, sedang mengkonsumsi obat tertentu yang menjadi kontraindikasi, atau masih merasa lemas setelah melahirkan. Petugas donor juga akan memeriksa tekanan darah, kadar hemoglobin, berat badan, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh sebelum donor dilakukan.

3. Penuhi kebutuhan cairan

Minumlah air putih yang cukup sebelum dan sesudah donor darah untuk membantu menggantikan cairan yang hilang serta mengurangi risiko pusing atau lemas setelah donor.

4. Konsumsi makanan bergizi sebelum dan sesudah donor

Perbanyak makanan yang kaya zat besi, protein, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C untuk membantu pembentukan sel darah merah. Beberapa pilihan makanan yang dianjurkan meliputi:

  • Daging tanpa lemak
  • Ikan
  • Telur
  • Bayam
  • Brokoli
  • Kacang-kacangan
  • Buah-buahan yang kaya vitamin C, seperti jeruk, kiwi, atau jambu biji

Kombinasi zat besi dan vitamin C juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi sehingga pemulihan tubuh menjadi lebih optimal.

5. Tetap susui bayi seperti biasa

Apabila Moms sudah memenuhi syarat donor darah, tidak perlu menghentikan pemberian ASI setelah donor. Donor darah tidak memengaruhi kualitas maupun keamanan ASI sehingga bayi tetap dapat menyusu seperti biasa.

6. Istirahat yang cukup setelah donor

Hindari aktivitas fisik berat selama 24 jam setelah donor darah. Berikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat dan risiko keluhan seperti pusing atau kelelahan dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Ibu menyusui boleh donor darah, tetapi sebaiknya menundanya hingga kondisi tubuh benar-benar pulih setelah melahirkan dan telah memenuhi persyaratan donor darah yang berlaku. Donor darah tidak terbukti mengurangi kualitas maupun produksi ASI secara langsung. Namun, setelah donor, Moms tetap perlu memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta beristirahat yang cukup agar tubuh dapat pulih dengan baik dan proses menyusui tetap berjalan lancar.

Apabila masih ragu mengenai waktu yang tepat untuk donor darah atau memiliki kekhawatiran terkait produksi ASI setelah donor, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter  konselor laktasi di KS Women and Children Clinic. Dengan pendampingan yang tepat, Moms dapat memperoleh rekomendasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan, sehingga tetap dapat menjaga kesehatan diri sekaligus memberikan ASI terbaik untuk si Kecil.

Referensi:
World Health Organization. (n.d.). Who can give blood. World Health Organization. https://www.who.int/
La Leche League International. (n.d.). Donating blood. La Leche League International. https://llli.org/breastfeeding-info/donating-blood/
Palang Merah Indonesia. (n.d.). FAQ donor darah. Ayo Donor PMI. https://ayodonor.pmi.or.id/

 

Penulis

sribulogin

Tanggal

07/25/2026

Penulis

sribulogin

Tanggal

07/25/2026

0 Comments

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Bermanfaat Lainnya

Shares
Share This

Share This

Share this post with your friends!

Shares