
Mom & Dad mungkin pernah menghadapi fase ketika si Kecil hanya mau makan makanan tertentu dan menolak makanan lainnya. Kondisi ini sering dikenal sebagai picky eater atau kebiasaan pilih-pilih makanan. Perilaku tersebut sering kali membuat orang tua khawatir, mengingat si Kecil masih berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan nutrisi yang lengkap serta seimbang setiap hari. Oleh karena itu, Mom & Dad perlu memahami apa itu picky eater, penyebab yang mendasarinya, serta cara mengatasinya. Sehingga kebutuhan nutrisi Si Kecil tetap terpenuhi dan proses tumbuh kembangnya berjalan optimal.
Baca juga: Panduan Lengkap Mengatasi Anak GTM Penyebab, Solusi, dan Tips Makan
Mengenal picky eater pada anak
Perilaku picky eater pada anak ditandai dengan kebiasaan memilih makanan secara berlebihan, sehingga hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu dan cenderung menolak makanan lainnya. Kondisi ini termasuk dalam food preference, yaitu kecenderungan anak memiliki preferensi terhadap makanan tertentu berdasarkan rasa, tekstur, aroma, warna, atau bentuknya.
Pada sebagian besar kasus, perilaku picky eater merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal, terutama pada anak usia balita. Seiring bertambahnya usia, si Kecil mulai mengenal berbagai jenis makanan sekaligus belajar mengekspresikan kesukaan dan ketidaksukaannya terhadap makanan. Terkadang si Kecil juga enggan mencoba makanan baru (food neophobia), sehingga pilihan makanannya menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, anak yang mengalami picky eater umumnya masih bersedia mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan dari setiap kelompok makanan, seperti karbohidrat, protein, sayur atau buah, maupun susu. Oleh karena itu, kondisi ini berbeda dengan gangguan makan yang menyebabkan anak menolak seluruh jenis makanan dari kelompok tertentu.
Meskipun merupakan fase yang normal, kebiasaan pilih-pilih makanan tetap perlu diperhatikan. Jika berlangsung dalam waktu lama hingga membuat variasi makanan semakin terbatas atau kebutuhan nutrisi si Kecil tidak terpenuhi, kondisi ini dapat berisiko mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil.
Penyebab picky eater pada anak
Perilaku picky eater tidak muncul begitu saja. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai penyebab, mulai dari pola pengasuhan dan lingkungan keluarga hingga kondisi yang berasal dari dalam diri anak. Berikut penjelasannya.
Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan dan pola pengasuhan anak. Beberapa di antaranya meliputi:
- Pola asuh orang tua
Misalnya, memaksa anak menghabiskan makanan, tidak menerapkan jadwal makan yang teratur, atau kurang melibatkan anak saat waktu makan dapat membuat Si Kecil lebih sulit menerima berbagai jenis makanan. - Kebiasaan makan dalam keluarga
Apabila anggota keluarga jarang mengonsumsi sayur, buah, atau makanan yang bervariasi, si Kecil juga berisiko memiliki pola makan yang terbatas dan menjadi lebih pilih-pilih terhadap makanan. - Waktu yang terbatas untuk menyediakan makanan
Karena kesibukan, terkadang membuat waktu untuk menyiapkan menu yang bervariasi atau mendampingi anak saat makan menjadi lebih terbatas. Kondisi ini dapat memengaruhi kebiasaan makan si Kecil apabila berlangsung secara terus-menerus. - Terlambat mengenalkan makanan pendamping ASI (MPASI)
Apabila pengenalan makanan padat dilakukan terlambat atau variasi makanannya kurang beragam, si Kecil dapat menjadi lebih sulit menerima makanan baru di kemudian hari.
Faktor internal
Selain faktor lingkungan, beberapa kondisi yang berasal dari dalam diri si Kecil juga dapat mempengaruhi kebiasaan makannya, seperti:
- Sensitivitas terhadap rasa, aroma, atau tekstur makanan
Sebagian anak memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap rasa, aroma, warna, maupun tekstur makanan. Akibatnya, mereka lebih mudah menolak makanan yang menurutnya memiliki rasa atau tekstur yang kurang nyaman, meskipun makanan tersebut bergizi. - Penggunaan gadget yang berlebihan
Anak yang terlalu sering menggunakan gadget dapat menjadi kurang fokus saat makan dan lebih sulit mengenali rasa lapar maupun kenyang. - Kondisi medis tertentu
Pada beberapa kasus, picky eater juga dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Anak dengan ADHD dapat memiliki preferensi terhadap makanan tertentu dan lebih sensitif terhadap rasa, aroma, maupun tekstur makanan baru. Oleh karena itu, apabila kebiasaan pilih-pilih makanan disertai gangguan tumbuh kembang atau keluhan lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Bagaimana agar anak tidak picky eater?
Kebiasaan makan anak terbentuk dari berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga hingga pengalaman belajar mengenal makanan. Oleh karena itu, penting bagi Mom & Dad untuk membangun pola makan yang sehat sejak dini. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi anak yang picky eater:
Beri contoh pola makan dan cara makan yang baik
Biasakan mengonsumsi berbagai jenis makanan bergizi, seperti sayur, buah, dan sumber protein, di depan Si Kecil. Melihat seluruh anggota keluarga menikmati makanan yang sama dapat mendorong anak untuk ikut mencobanya. Sediakan berbagai menu makan yang bervariasi, meskipun makanan tersebut bukan kesukaan Mom & Dad. Namun tetap sediakan dan perkenalkan secara perlahan.
Sajikan makanan dalam porsi kecil
Porsi makanan yang terlalu banyak dapat membuat si Kecil merasa cepat kenyang dan kehilangan minat untuk makan. Sebaiknya, Mom & Dad sajikan makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu, kemudian tambahkan secara bertahap apabila si kecil masih ingin makan.
Berikan kesempatan memilih makanan
Libatkan Si Kecil saat memilih menu atau mengambil makanan yang akan disantap. Berikan makanan di atas meja yang terjangkau oleh si Kecil. Cara ini dapat membuat anak lebih antusias untuk makan karena merasa memiliki kendali atas pilihannya. Namun, pastikan pilihan yang tersedia tetap bergizi dan sesuai dengan usianya.
Perkenalkan makanan baru secara bertahap
Jangan langsung menyerah jika si Kecil menolak makanan baru diperkenalkan. Cobalah menawarkan kembali makanan tersebut setidaknya 10-15 kali secara bertahap pada kesempatan lain tanpa paksaan. Campur atau variasikan makanan yang baru dikenalkan dengan makanan yang disukai si Kecil. Biasanya anak membutuhkan beberapa kali kesempatan untuk mencoba mengenal makanan, sebelum akhirnya mau menerima makanan baru.
Ciptakan suasana makan yang menyenangkan
Jadikan waktu makan sebagai momen yang nyaman bersama keluarga. Hindari distraksi, seperti menonton TV atau gadget, dan biasakan makan bersama. Dengan lingkungan yang kondusif, si Kecil jadi lebih fokus dan tertarik untuk makan.
Hindari memaksa atau memarahi anak jika tidak mau makan
Jika si Kecil menolak makanan tertentu, Mom & Dad harus tetap tenang dan jangan memaksa, mengancam, atau memarahinya. Tekanan saat makan justru dapat membuat si Kecil semakin enggan mencoba makanan baru. Sebaliknya, berikan apresiasi ketika Si Kecil berani mencicipi makanan yang belum pernah dicoba, meskipun hanya dalam jumlah sedikit.
Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki kebiasaan makan dan waktu beradaptasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Mom & Dad tidak perlu terburu-buru atau membandingkan Si Kecil dengan anak lain. Dengan kesabaran, konsistensi, dan pola makan yang positif di rumah, anak umumnya akan lebih mudah menerima berbagai jenis makanan. Namun, apabila kebiasaan picky eater berlangsung dalam waktu lama hingga memengaruhi asupan nutrisi, berat badan, atau pertumbuhan Si Kecil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kapan perlu konsultasi dengan dokter?
Pada umumnya, perilaku picky eater dapat membaik seiring bertambahnya usia. Namun, apabila kebiasaan pilih-pilih makanan berlangsung dalam waktu lama atau mulai mempengaruhi asupan nutrisi dan pertumbuhan, Mom & Dad sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.
Berikut beberapa kondisi yang perlu diwaspadai dan menjadi tanda bahwa Si Kecil memerlukan pemeriksaan lebih lanjut:
- Hanya mau mengkonsumsi sedikit jenis makanan. Misalnya, si Kecil terus-menerus menolak sebagian besar makanan dan hanya mau mengonsumsi makanan tertentu sehingga variasi asupan gizinya sangat terbatas.
- Berat badan sulit naik atau justru menurun. Kebiasaan pilih-pilih makanan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kebutuhan energi dan nutrisi harian si Kecil tidak terpenuhi secara optimal.
- Pertumbuhan atau perkembangan tidak sesuai usianya. Dokter perlu mengevaluasi apakah picky eater sudah mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil.
- Muncul tanda-tanda kekurangan nutrisi. Misalnya si Kecil tampak lemas, mudah sakit, pucat, atau mengalami gangguan konsentrasi akibat asupan nutrisi yang kurang.
- Sering muntah, tersedak, atau mengalami kesulitan mengunyah maupun menelan makanan. Kondisi ini dapat mengindikasikan adanya masalah lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
- Kebiasaan pilih-pilih makanan tidak kunjung membaik. Apabila berbagai upaya di rumah telah dilakukan tetapi Si Kecil tetap menolak berbagai jenis makanan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sebaiknya Mom & Dad segera lakukan evaluasi dengan dokter.
Apabila Mom & Dad memiliki kekhawatiran mengenai kebiasaan makan Si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di KS Women and Children Clinic. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi sehingga tumbuh kembangnya berlangsung optimal.
Melalui pemeriksaan, dokter akan menilai apakah kebiasaan picky eater yang dialami Si Kecil masih termasuk fase perkembangan yang normal atau berkaitan dengan kondisi lain yang memerlukan penanganan. Dokter juga dapat memberikan rekomendasi pola makan, strategi pemberian makan, serta pemenuhan kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan si Kecil.
Referensi:
– Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diakses pada 2026. Pilih-Pilih Makanan.
– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Picky Eater pada Anak: Kapan Terapi Wicara Dibutuhkan?
– Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Diakses pada 2026. Mengatasi Anak Picky Eater: Tips dan Strategi.









0 Comments