Bayi yang baru diperkenalkan MPASI memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan tekstur, rasa dan cara makan yang baru. Oleh karena itu, tidak jarang apabila ada bayi yang menolak atau melepeh MPASI, terutama saat pertama kali diberikan. Kondisi ini sering kali membuat orang tua cemas dan khawatir si Kecil akan kekurangan asupan nutrisi.
Padahal, melepeh MPASI tidak selalu menandakan si Kecil tidak menyukai atau tidak bisa makan makanan tersebut. Kebiasaan ini merupakan bagian dari proses belajar makan. Namun dalam beberapa kasus juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti tekstur makanan yang kurang sesuai, bayi belum siap menerima MPASI, sedang tumbuh gigi, atau kurang sehat.
Lalu, apa saja penyebab si Kecil sering menolak dan melepeh MPASI? Simak penjelasan lengkap beserta cara mengatasinya agar proses makan si kecil tetap menyenangkan dan kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi.
Artikel lainnya: Tips Memperkenalkan MPASI pada Bayi 6 Bulan Agar si Kecil Lahap dan Tidak GTM
Penyebab bayi tidak mau makan MPASI?
Kebiasaan bayi melepeh MPASI tidak selalu disebabkan oleh hal yang sama. Pada setiap tahap usia, penyebabnya bisa berbeda sehingga cara mengatasinya pun perlu disesuaikan.
Bayi menolak MPASI di usia 6 bulan
Pada usia 6 bulan, bayi baru mulai belajar makan sehingga melepeh MPASI masih sangat wajar. Beberapa penyebabnya antara lain:
- Refleks ekstrusi (tongue thrust reflex) masih kuat. Refleks ini membuat lidah bayi secara otomatis mendorong benda asing keluar dari mulut sebagai mekanisme perlindungan.
- Tekstur MPASI kurang sesuai. MPASI yang masih kasar atau belum cukup halus dapat membuat si Kecil kesulitan menelan.
- Konsistensi makanan terlalu padat. MPASI sebaiknya memiliki tekstur yang kental tetapi tetap mudah jatuh dari sendok, bukan terlalu padat atau lengket.
Cara mengatasinya
Berikan MPASI saat bayi berusia 6 bulan sesuai rekomendasi. Pastikan teksturnya halus dan konsistensinya pas. Selain itu, Mom & Dad bisa memberikan stimulasi oral dengan makanan yang aman untuk digenggam (finger food) tetapi tidak mudah patah, seperti bonggol jagung, biji mangga yang sudah bersih, tulang paha ayam berukuran besar, atau batang tebu. Aktivitas ini membantu si Kecil mengenal makanan sekaligus melatih koordinasi mulutnya.
Bayi menolak MPASI di usia 7–8 bulan
Memasuki usia 7–8 bulan, bayi umumnya mulai bosan dengan bubur yang terlalu encer. Mereka mulai ingin belajar menggigit dan mengunyah. Jika MPASI masih terlalu cair, bayi bisa terlihat menolak makan atau melepeh makanan karena teksturnya sudah tidak sesuai dengan kemampuan makannya.
Cara Mengatasinya
Mulailah membuat MPASI lebih padat dengan tekstur menyerupai adonan perkedel yang dapat dijepit menggunakan jari. Mom & Dad juga dapat mulai mengenalkan finger food yang lunak dan mudah hancur di mulut, seperti:
- Pisang
- Alpukat
- Buah naga
- Kukusan wortel
- Kukusan labu
- Brokoli kukus
Tekstur yang lebih menantang dapat membantu melatih kemampuan mengunyah pada bayi.
Bayi menolak MPASI di usia 9–11 bulan
Pada usia ini, kemampuan oral motor bayi berkembang semakin baik. Mereka mulai membutuhkan makanan dengan tekstur yang lebih bervariasi agar kemampuan mengunyah terus terlatih. Apabila si Kecil masih terus diberikan makanan yang terlalu halus, mereka justru bisa bosan dan melepeh MPASI.
Cara mengatasinya
Tingkatkan tekstur MPASI menjadi makanan cincang atau makanan keluarga yang dimodifikasi sesuai kemampuan si Kecil. Biarkan ia memegang makanan sendiri agar belajar makan mandiri (self-feeding).
Mom & Dad juga dapat memberikan stimulasi berupa makanan yang renyah tetapi tetap aman, misalnya:
- Keripik tempe yang dipanggang (bukan digoreng)
- Irisan tipis mentimun
- Bengkuang
Aktivitas menggigit dan mengunyah ini membantu memperkuat otot mulut bayi.
Bayi menolak MPASI di usia 12 Bulan
Jika bayi usia 12 bulan masih sesekali melepeh makanan, penyebabnya sering kali berkaitan dengan proses tumbuh gigi yang masih berlangsung. Perlu diketahui bahwa pertumbuhan gigi susu dapat berlanjut hingga sekitar usia 24 bulan sehingga rasa tidak nyaman pada gusi masih mungkin terjadi.
Cara mengatasinya
Pada usia ini, si Kecil sebaiknya sudah mulai mengonsumsi makanan keluarga dengan tekstur yang sesuai. Hindari terlalu sering menyuwir ayam, daging, atau ikan hingga sangat halus. Sebagai gantinya, olah menjadi bakso, perkedel, adonan, atau potongan kecil yang mudah dikunyah.
Selain itu, terus latih kemampuan mengunyah melalui aktivitas makan bersama keluarga. Mom & Dad dapat memberi contoh saat makan sate (tentunya bayi hanya diberikan potongan daging yang sudah dilepas dari tusuk sate dan dipotong kecil), sehingga si Kecil terdorong meniru cara mengunyah dari orang tuanya.
Sampai kapan bayi melepeh makanan?
Kebiasaan melepeh makanan umumnya hanya terjadi pada masa awal pengenalan MPASI dan akan berkurang seiring berkembangnya kemampuan oral motor bayi. Sebagian besar bayi mulai lebih mahir menggerakkan lidah, mengunyah, dan menelan makanan secara bertahap selama tahun pertama kehidupannya. Oleh karena itu, sesekali melepeh makanan masih termasuk hal yang normal, terutama ketika si Kecil sedang beradaptasi dengan tekstur baru atau sedang belajar makan sendiri.
Namun, setiap bayi memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Ada bayi yang cepat beradaptasi dalam beberapa minggu, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama hingga mendekati usia satu tahun. Selama bayi tetap aktif, pertumbuhan berat badan sesuai dengan kurva pertumbuhan, serta mampu menerima variasi tekstur makanan secara bertahap, Mom & Dad umumnya tidak perlu terlalu khawatir.
Kapan perlu waspada?
Pada umumnya, bayi yang sesekali melepeh MPASI masih termasuk normal sebagai bagian dari proses belajar makan. Namun, Mom & Dad perlu lebih waspada apabila kebiasaan ini terus berlangsung meskipun si Kecil sudah terbiasa mengonsumsi MPASI dan kemampuan makannya seharusnya semakin berkembang.
Segera konsultasikan dengan dokter anak apabila si Kecil mengalami salah satu atau beberapa kondisi berikut:
- Menolak hampir semua jenis makanan secara terus-menerus.
- Sering tersedak, batuk, atau muntah setiap kali makan.
- Tampak kesulitan mengunyah atau menelan makanan sesuai usianya.
- Berat badan tidak naik atau pertumbuhannya tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan.
- Waktu makan selalu berlangsung sangat lama dan bayi tampak kesulitan menghabiskan porsi makan.
Kondisi-kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya gangguan pada kemampuan makan (feeding difficulties), perkembangan oral motor, atau masalah kesehatan tertentu yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan oleh dokter anak diperlukan untuk mengetahui penyebabnya sehingga penanganan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan si Kecil.
Agar proses MPASI berjalan lebih optimal, Mom & Dad dapat berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli gizi di KS Women and Children Clinic. Melalui evaluasi menyeluruh, dokter akan mencari penyebab si Kecil sulit makan, sedangkan ahli gizi akan memberikan rekomendasi menu, tekstur MPASI, serta kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan usianya.









0 Comments