Dapatkan Panduan Lengkap Seputar Kehamilan

Mulai Dari Sebelum Hamil, Saat Hamil & Sesudah Melahirkan

Apa Itu Atonia Uteri? Kenali Penyebab dan Gejalanya Setelah Melahirkan

 

Atonia uteri merupakan salah satu penyebab utama perdarahan setelah melahirkan atau perdarahan postpartum. Kondisi ini terjadi ketika rahim tidak berkontraksi dengan cukup kuat setelah bayi dan plasenta lahir. Padahal, kontraksi rahim sangat penting untuk membantu menghentikan perdarahan setelah melahirkan secara alami. Atonia uteri dapat terjadi setelah persalinan normal maupun operasi caesar. Karena dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan dalam jumlah banyak, kondisi ini membutuhkan penanganan segera.

Baca juga: Apa Itu Involusi Uterus pada Masa Nifas? Kenali Tahapan dan Tandanya 

Pengertian atonia uteri

atonia uteri

atonia uteri, sumber: mag online library

Atonia uteri adalah kondisi ketika kemampuan otot rahim untuk berkontraksi dan menekan pembuluh darah setelah plasenta terlepas tidak berlangsung secara optimal. Setelah plasenta keluar, terdapat pembuluh darah yang sebelumnya berfungsi mengalirkan darah ke plasenta. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk menghentikan aliran darah tersebut, salah satunya melalui kontraksi otot rahim yang menekan pembuluh darah di area bekas melekatnya plasenta. Proses ini turut dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang dilepaskan selama dan setelah persalinan. Pada atonia uteri, respons kontraksi rahim tidak cukup efektif sehingga pembuluh darah tersebut tidak tertekan dengan baik. Akibatnya, darah dapat terus keluar dan menyebabkan perdarahan postpartum dalam jumlah banyak. Kondisi ini membuat atonia uteri menjadi salah satu penyebab perdarahan setelah melahirkan dan membutuhkan penanganan segera dari dokter dan tenaga kesehatan untuk mencegah kehilangan darah berlebihan serta komplikasi yang dapat membahayakan ibu.

Faktor risiko penyebab atonia uteri

Atonia uteri dapat terjadi karena berbagai kondisi yang mempengaruhi kemampuan rahim untuk berkontraksi setelah persalinan. Faktor risikonya dapat berkaitan dengan kondisi rahim, proses persalinan, hingga kondisi ibu selama kehamilan. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya atonia uteri antara lain:

  • Persalinan pertama (primipara). Persalinan pertama dapat berlangsung lebih lama pada kondisi tertentu. Proses persalinan yang berkepanjangan dapat menyebabkan otot rahim mengalami kelelahan sehingga kontraksinya setelah bayi lahir menjadi kurang optimal.
  • Persalinan lebih dari lima kali. Kehamilan dan persalinan berulang dapat menyebabkan rahim mengalami peregangan berkali-kali, sehingga setelah persalinan berikutnya kontraksi rahim mungkin tidak seoptimal sebelumnya.
  • Hamil bayi kembar (gemeli) atau lebih. Kehamilan multipel membuat rahim meregang lebih besar dibandingkan kehamilan dengan satu bayi.
  • Ukuran dan berat badan bayi lahir lebih besar dari rata-rata bayi baru lahir pada umumnya (makrosomia).
  • Usia ibu lebih dari 35 tahun. 
  • Jumlah cairan ketuban terlalu banyak atau polihidramnion. Kondisi ini membuat rahim teregang lebih besar dari biasanya karena harus menampung volume cairan yang berlebihan. 
  • Obesitas. Obesitas selama kehamilan dapat meningkatkan risiko atonia uteri, terutama karena berkaitan dengan kemungkinan bayi berukuran besar, persalinan yang lebih lama, atau proses persalinan yang membutuhkan induksi.
  • Memiliki fibroid (tumor jinak) rahim. Fibroid dapat mempengaruhi kemampuan otot rahim untuk berkontraksi secara optimal setelah persalinan.
  • Pernah mengalami perdarahan hebat setelah persalinan sebelumnya. Riwayat perdarahan pasca persalinan dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi serupa pada persalinan berikutnya.
Selain faktor yang sudah ada selama kehamilan, beberapa kondisi selama proses persalinan juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya atonia uteri, seperti:
  • Persalinan berlangsung sangat lama, sangat cepat, atau mengalami kesulitan.  
  • Persalinan perlu diinduksi. Penggunaan obat atau metode tertentu untuk merangsang persalinan dapat berkaitan dengan peningkatan risiko atonia uteri, terutama pada kondisi tertentu.
  • Terjadi infeksi pada rahim atau selaput ketuban, seperti korioamnionitis. Infeksi dapat mempengaruhi fungsi otot rahim dan mengganggu kontraksinya setelah persalinan.

Memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti pasti mengalami atonia uteri. Faktor risiko bukanlah penyebab langsung, melainkan kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya atonia uteri pada sebagian ibu melahirkan. 

Oleh karena itu, adanya faktor risiko perlu menjadi perhatian, terutama selama dan setelah persalinan. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, dokter dan tenaga kesehatan dapat melakukan pemantauan secara lebih komprehensif serta menyiapkan penanganan yang diperlukan apabila terjadi risiko perdarahan postpartum. 

Gejala atonia uteri yang perlu diwaspadai

Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan setelah melahirkan yang jumlahnya lebih banyak dari kondisi normal. Selain perdarahan, terdapat beberapa tanda lain yang dapat muncul dan perlu diperhatikan setelah persalinan. Beberapa gejala atonia uteri yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Tekanan darah menurun
  • Denyut jantung meningkat
  • Pusing atau merasa seperti mau pingsan
  • Wajah dan kulit tampak pucat
  • Kehilangan kesadaran
  • Sulit atau tidak bisa buang air kecil
  • Nyeri, terutama pada bagian punggung

Gejala-gejala tersebut dapat muncul ketika tubuh mengalami kehilangan darah setelah persalinan. Oleh karena itu, apabila beberapa gejala muncul bersamaan atau terasa semakin berat, sebaiknya segera informasikan kepada tenaga kesehatan agar kondisi Mom dapat diperiksa dan ditangani sesuai kebutuhan.

Pentingnya pemantauan kondisi kehamilan secara berkala

Pemeriksaan kehamilan secara berkala bersama dokter spesialis Obgyn dapat membantu memantau kondisi Mom dan perkembangan si Kecil dari waktu ke waktu. Melalui pemeriksaan rutin, dokter dapat mengenali faktor risiko atau perubahan kondisi yang berpotensi menimbulkan komplikasi selama kehamilan maupun persalinan, sehingga langkah pemantauan dan penanganan dapat disiapkan sesuai kebutuhan. KS Women and Children Clinic siap mendampingi Mom selama masa kehamilan melalui pemeriksaan bersama dokter spesialis kandungan dan tenaga medis berpengalaman dan fasilitas yang mendukung kebutuhan ibu serta bayi. Pemeriksaan yang dilakukan secara rutin dapat membantu Mom mendapatkan pemantauan sesuai kondisi kehamilan dan mempersiapkan persalinan dengan lebih baik.

Sumber referensi:
Cleveland Clinic. Uterine Atony: Causes, Symptoms, Risks & Treatment. Cleveland Clinic; 2026.
Gill P, Patel A, Van Hook JW. Uterine Atony. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026.

 

 

Penulis

sribulogin

Tanggal

09/15/2026

Penulis

sribulogin

Tanggal

09/15/2026

0 Comments

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Bermanfaat Lainnya

Apa Perbedaan Campak dan Rubella? Kenali Gejalanya

Apa Perbedaan Campak dan Rubella? Kenali Gejalanya

  Campak dan rubella merupakan dua penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Keduanya sering dianggap sebagai penyakit yang sama karena sama-sama dapat menimbulkan ruam kemerahan pada kulit. Padahal, campak dan rubella memiliki beberapa perbedaan, mulai dari...

read more
Shares
Share This

Share This

Share this post with your friends!

Shares