Menjaga keseimbangan pH vagina merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan organ intim wanita. Vagina yang sehat memiliki kadar pH atau tingkat keasaman sekitar 3,8–4,5. Kondisi yang sedikit asam ini berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan bakteri baik (flora normal) sehingga dapat melindungi vagina dari pertumbuhan bakteri, jamur, maupun mikroorganisme penyebab infeksi. Namun, berbagai faktor dapat mengganggu keseimbangan pH vagina. Ketika pH vagina menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah, risiko mengalami infeksi seperti bacterial vaginosis maupun infeksi jamur dapat meningkat. Sayangnya, perubahan pH vagina sering kali tidak disadari karena pada tahap awal gejalanya cenderung ringan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali berbagai penyebab pH vagina tidak seimbang agar kondisi ini dapat dicegah maupun ditangani sejak dini.
Artikel lainnya: Berapa pH Vagina yang Normal dan Bagaimana Cara Menjaganya?
Penyebab pH vagina tidak seimbang
Vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga tingkat keasamannya tetap seimbang. Namun, dalam kondisi tertentu, mekanisme tersebut dapat terganggu sehingga pH vagina berubah dari kisaran normal. Perubahan ini dapat memengaruhi keseimbangan flora normal vagina dan meningkatkan risiko terjadinya berbagai masalah pada organ intim. Berikut beberapa faktor yang dapat menjadi penyebabnya.
1. Infeksi
Beberapa jenis infeksi yang paling sering mempengaruhi perubahan pH vagina antara lain bacterial vaginosis (vaginosis bakteri), trikomoniasis, dan infeksi jamur vagina (kandidiasis). Pada vaginosis bakteri dan trikomoniasis, pH vagina umumnya menjadi lebih basa sehingga bakteri atau parasit penyebab infeksi lebih mudah berkembang. Sementara itu, infeksi jamur biasanya terjadi akibat terganggunya keseimbangan flora normal vagina, meskipun pH vagina sering kali tetap berada dalam kisaran normal.
2. Mengonsumsi antibiotik
Antibiotik dapat membunuh bakteri penyebab infeksi, tetapi juga berpotensi mengurangi jumlah bakteri baik yang berfungsi menjaga keseimbangan pH vagina. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik sebaiknya selalu sesuai dengan anjuran dokter.
3. Perubahan hormon
Perubahan kadar hormon, terutama hormon estrogen, dapat mempengaruhi keseimbangan pH vagina. Kondisi ini dapat terjadi secara alami selama siklus menstruasi, kehamilan, masa menyusui, maupun menopause. Selain itu, penggunaan kontrasepsi hormonal, seperti pil KB, pada sebagian wanita juga dapat mempengaruhi kadar hormon. Ketika kadar estrogen berubah, jumlah bakteri baik (Lactobacillus) yang berfungsi menjaga keasaman vagina dapat ikut berkurang sehingga pH vagina menjadi tidak seimbang.
4. Membersihkan vagina dengan cairan pembersih
Penggunaan cairan pembersih vagina (douching), sabun antiseptik, atau produk kewanitaan yang mengandung pewangi dapat mengganggu keseimbangan pH vagina. Kandungan bahan kimia dalam produk tersebut berisiko mengurangi jumlah bakteri baik (Lactobacillus) yang berperan menjaga keasaman alami vagina. Akibatnya, keseimbangan flora normal vagina dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko iritasi maupun infeksi. Untuk menjaga kesehatan organ intim, cukup bersihkan area luar vagina (vulva) menggunakan air bersih atau pembersih yang lembut dengan pH yang sesuai apabila diperlukan.
5. Berhubungan seksual
Air mani memiliki pH yang lebih basa dibandingkan pH alami vagina sehingga dapat meningkatkan pH vagina untuk sementara waktu. Selain itu, penggunaan pelumas atau alat kontrasepsi tertentu pada sebagian wanita juga dapat memengaruhi keseimbangan flora normal vagina.
Selain itu, berhubungan seksual dengan menggunakan alat bantu seks yang tidak dibersihkan atau tidak digunakan sesuai prosedur kebersihan dapat meningkatkan risiko masuknya bakteri atau mikroorganisme penyebab infeksi, yang pada akhirnya dapat mengganggu keseimbangan pH vagina.
6. Kurang menjaga kebersihan area intim
Cara menjaga kebersihan area intim yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko terganggunya keseimbangan pH vagina. Misalnya, membersihkan area intim dari arah belakang ke depan dapat memindahkan bakteri dari area anus ke vagina sehingga memicu infeksi.
Selain itu, penggunaan pakaian dalam yang lembap, jarang diganti, atau berbahan yang tidak menyerap keringat dapat membuat area intim menjadi lebih lembap. Kondisi ini dapat mendukung pertumbuhan bakteri maupun jamur yang berlebihan dan pada akhirnya mengganggu keseimbangan pH vagina.
7. Adanya kondisi medis tertentu
Beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko pH vagina menjadi tidak seimbang. Salah satunya adalah diabetes yang tidak terkontrol, karena kadar gula darah yang tinggi dapat mempermudah pertumbuhan jamur dan bakteri penyebab infeksi.
Selain itu, gangguan pada sistem kekebalan tubuh juga dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam menjaga keseimbangan flora normal vagina. Akibatnya, vagina menjadi lebih rentan mengalami infeksi yang dapat memengaruhi keseimbangan pH.
Apa tanda pH Vagina tidak seimbang?
Perubahan pH vagina tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, jika keseimbangan flora normal terganggu, beberapa keluhan berikut dapat muncul:
- Keputihan berwarna putih keabu-abuan, kuning, atau kehijauan.
- Bau tidak sedap atau bau amis dari vagina.
- Rasa gatal, perih, atau sensasi terbakar pada area kewanitaan.
- Nyeri saat buang air kecil.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual.
- Keputihan yang jumlahnya lebih banyak dari biasanya.
Apabila gejala tersebut berlangsung selama beberapa hari atau disertai nyeri hebat maupun demam, sebaiknya Mom segera lakukan pemeriksaan ke dokter.
Kesimpulan
Penyebab pH vagina tidak seimbang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti menstruasi, hubungan seksual tanpa kondom, infeksi bakteri atau jamur, penggunaan antibiotik, perubahan hormon, hingga kebiasaan membersihkan vagina yang kurang tepat. Mengetahui faktor-faktor tersebut dapat membantu Mom mengambil langkah pencegahan agar kesehatan organ intim tetap terjaga.
Apabila Mom mengalami keputihan yang tidak normal, bau tidak sedap, gatal, atau keluhan lain pada area kewanitaan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis Obgyn di KS Women and Children Clinic. Pemeriksaan dan penanganan yang tepat dapat membantu mengatasi penyebab gangguan pH vagina sekaligus menjaga kesehatan reproduksi secara menyeluruh.









0 Comments