Dapatkan Panduan Lengkap Seputar Kehamilan

Mulai Dari Sebelum Hamil, Saat Hamil & Sesudah Melahirkan

10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Kontraksi Persalinan

Tidak Boleh Dilakukan Saat Kontraksi

 

Kontraksi persalinan merupakan sinyal alami dari tubuh yang menandakan bahwa proses kelahiran si Kecil semakin dekat. Intensitasnya biasanya muncul secara bertahap, mulai dari yang ringan hingga semakin kuat dan teratur. Seiring dengan itu, rasa nyeri dan ketidaknyamanan pun kerap dirasakan oleh ibu hamil. Dalam kondisi ini, tidak sedikit ibu yang merasa panik atau kebingungan dalam menyikapinya. Reaksi tersebut wajar, terutama bagi yang baru pertama kali menghadapi persalinan. Namun, penting untuk tetap tenang dan memahami langkah yang tepat, karena cara menyikapi kontraksi dapat memengaruhi kelancaran proses persalinan. Tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan atau tindakan yang justru sebaiknya dihindari saat kontraksi berlangsung. Alih-alih membantu, hal-hal tersebut bisa membuat rasa tidak nyaman semakin meningkat atau bahkan menghambat proses persalinan. Agar Mommils lebih siap dan tidak salah langkah, penting untuk mengetahui apa saja hal yang tidak boleh dilakukan saat kontraksi persalinan, sehingga proses kelahiran si Kecil dapat berjalan lebih aman, nyaman, dan terkendali.

Artikel lainnya : Bolehkah Tidur Saat Kontraksi Persalinan? Ini Penjelasan Lengkapnya

1. Terlalu panik dan tidak mengatur napas

Saat kontraksi mulai terasa, respons yang sering muncul adalah rasa panik. Padahal, kepanikan justru dapat membuat otot tubuh menegang sehingga nyeri terasa lebih kuat. Sebaliknya, usahakan untuk tetap tenang dan mulai mengatur napas dengan ritme yang stabil. Teknik pernapasan dalam dengan cara menarik napas perlahan melalui hidung lalu menghembuskannya secara lembut lewat mulut. Teknik ini dapat membantu meredakan ketegangan saat kontraksi sekaligus membuat tubuh lebih rileks. Latihan teknik pernapasan sederhana ini juga sebaiknya sudah dibiasakan sejak masa kehamilan. Sehingga tubuh lebih siap menghadapi kontraksi saat persalinan berlangsung.

2. Menunda buang air kecil

Saat kontraksi mulai datang, sebagian ibu hamil memilih menahan buang air kecil karena khawatir harus bolak-balik ke kamar mandi atau takut proses persalinan tiba-tiba berlangsung. Padahal, kebiasaan ini justru dapat mengganggu jalannya persalinan.

Kandung kemih yang penuh bisa menghambat pergerakan kepala bayi menuju jalan lahir. Oleh karena itu, penting untuk tetap buang air kecil secara teratur. Kandung kemih yang kosong akan memberikan ruang lebih bagi si Kecil untuk turun dengan lebih optimal.

3. Berbaring telentang terus-menerus

Berbaring diam di tempat tidur memang terasa nyaman, tetapi posisi telentang dalam waktu lama justru dapat memperlambat proses persalinan. Posisi ini bisa menekan pembuluh darah besar di area punggung bawah sehingga aliran darah ke janin berpotensi berkurang.

Selama kontraksi masih berada pada tahap awal, usahakan untuk tetap aktif bergerak. Mommils bisa berjalan perlahan, duduk di bola persalinan, atau melakukan gerakan lembut ke depan dan belakang. Aktivitas ringan ini membantu bayi bergerak turun ke posisi yang lebih optimal untuk proses kelahiran

Jika kondisi tubuh sehat dan kehamilan berjalan normal, Mommils boleh mengganti posisi secara berkala untuk mencari yang paling nyaman. Salah satu posisi yang sering dianjurkan adalah miring ke kiri. Namun, jika ada kondisi tertentu, pastikan tetap mengikuti arahan dan pengawasan dokter.

4. Mengabaikan pola kontraksi yang dirasakan

Tidak semua kontraksi menandakan persalinan sudah dekat. Ada yang dikenal sebagai kontraksi Braxton Hicks, yaitu kontraksi palsu yang muncul tidak teratur dan umumnya tidak semakin kuat dari waktu ke waktu.

Salah satu hal yang sebaiknya dihindari adalah mengabaikan kontraksi atau keliru membaca polanya. Penting untuk mulai memperhatikan ritme kontraksi, baik dengan mencatat secara manual maupun menggunakan aplikasi penghitung kontraksi.

Biasanya, tanda persalinan aktif ditandai dengan kontraksi yang berlangsung sekitar 45–60 detik, muncul setiap 5 menit atau kurang, dan terjadi secara konsisten selama setidaknya satu jam. Jika pola ini sudah terasa, sebaiknya segera menuju fasilitas kesehatan agar proses persalinan dapat dipantau dengan aman.

5. Mengejan sebelum waktunya 

Saat kontraksi semakin kuat, dorongan untuk mengejan bisa muncul dengan sangat intens. Namun, mengejan sebelum pembukaan leher rahim mencapai tahap lengkap (10 cm) bukan langkah yang tepat dan berisiko menimbulkan cedera, seperti robekan pada serviks, serta dapat menghambat proses pembukaan.

Oleh karena itu, penting untuk menunggu arahan dari dokter atau bidan sebelum mulai mengejan. Jika dorongan terasa sulit ditahan, Mommils bisa mencoba teknik napas pendek dan cepat  untuk membantu mengontrol keinginan mengejan hingga waktunya benar-benar tepat.

6. Berteriak berlebihan saat kontraksi

Saat kontraksi mencapai puncaknya, wajar jika Mommils ingin mengekspresikan rasa sakit, termasuk dengan berteriak. Namun, berteriak secara berlebihan justru dapat menguras energi yang seharusnya disimpan untuk proses persalinan, terutama saat fase mengejan nanti.

Selain itu, teriakan yang tidak terkontrol sering kali membuat pola napas menjadi tidak teratur. Akibatnya, tubuh menjadi lebih tegang dan rasa nyeri bisa terasa semakin intens. Jadi, berteriak saat kontraksi sebaiknya tidak boleh dilakukan. Sebagai gantinya, cobalah mengeluarkan suara dengan lebih terarah, seperti mengerang pelan sambil tetap menjaga ritme napas. Cara ini membantu tubuh tetap rileks dan energi tetap terjaga.

7. Tidak mau makan dan minum

Rasa nyeri, cemas, atau mual saat kontraksi sering membuat nafsu makan menurun. Meski begitu, bukan berarti Mommils boleh melewatkan asupan makanan dan minum sama sekali. Tubuh tetap membutuhkan energi untuk menghadapi proses persalinan yang bisa berlangsung cukup lama.

Kurangnya asupan makanan dan minum dapat menyebabkan tubuh lemas, dehidrasi, bahkan membuat kontraksi terasa lebih berat. Pilih makanan ringan yang mudah dicerna, seperti buah, roti, atau sup hangat, serta pastikan tetap minum air putih secara cukup. Asupan yang tepat membantu menjaga stamina agar tetap optimal hingga proses persalinan selesai.

8. Menunda Buang Air Besar (BAB)

Keinginan untuk buang air besar terkadang muncul saat kontraksi, namun tidak sedikit ibu hamil yang memilih menahannya karena merasa tidak nyaman atau khawatir. Padahal, menunda BAB bisa membuat perut terasa semakin penuh dan tidak nyaman, sehingga menambah tekanan saat kontraksi berlangsung.

Selain itu, kondisi usus yang penuh dapat mengganggu ruang gerak bayi untuk turun ke jalan lahir. Jika memang ada dorongan untuk BAB, sebaiknya segera dituntaskan agar tubuh terasa lebih lega. Dengan begitu, proses persalinan pun dapat berjalan lebih lancar dan nyaman.

9. Mengabaikan tanda-tanda yang tidak normal

Selama kontraksi berlangsung, penting untuk tetap peka terhadap perubahan kondisi tubuh. Beberapa tanda seperti perdarahan yang tidak biasa, gerakan bayi yang tiba-tiba berkurang, atau kontraksi yang terasa sangat kuat tanpa jeda perlu mendapat perhatian khusus.

Jangan ragu untuk segera menyampaikan hal tersebut kepada dokter, bidan, atau tenaga medis yang mendampingi. Setiap perubahan yang terasa berbeda sebaiknya dikomunikasikan sejak awal, karena penanganan yang cepat dapat membantu mencegah risiko yang lebih serius dan menjaga keselamatan Mommils serta si Kecil.

10. Tidak mengikuti instruksi dari dokter atau bidan

Dokter dan bidan akan memberikan arahan kapan harus mengejan, mengatur napas, atau mengubah posisi. Namun, jika arahan tersebut diabaikan, proses persalinan bisa menjadi terhambat dan kurang optimal.

Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan setiap instruksi yang diberikan. Dengan mengikuti arahan dokter dan tenaga kesehatan, Mommils dapat menjalani proses persalinan dengan lebih lancar dan terarah.

Penutup

Menghadapi kontraksi persalinan membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang. Pahami apa saja yang tidak boleh dilakukan saat kontraksi melahirkan. Oleh karena itu, penting bagi Mommils mempersiapkan diri sejak awal dengan berkonsultasi ke dokter obgyn untuk memantau kondisi kehamilan sekaligus menyusun rencana persalinan yang tepat. Mommils juga dapat mempertimbangkan persalinan normal di KS Women and Children Clinic dengan dukungan dokter dan tenaga kesehatan profesional, sehingga proses kelahiran si Kecil dapat berlangsung lancar dan minim trauma.

Penulis

sribulogin

Tanggal

06/05/2026

Penulis

sribulogin

Tanggal

06/05/2026

0 Comments

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Bermanfaat Lainnya

Shares
Share This

Share This

Share this post with your friends!

Shares